Protect Indonesia Dan Serikat Hijau Indonesia, Bersama Masyarakat, Tanam Mangrove Untuk Lawan Abrasi
MEDIAEMPATLAWANG,Banyuasin— Protect Indonesia bersama Serikat Hijau Indonesia (SHI) Tanam bibit mangrove sebagai langkah lawan abrasi. Hal itu bertepatan dengan Peringatan Hari Bumi Sedunia 2026 tidak hanya menjadi seremoni, tetapi diwujudkan dalam aksi konkret di pesisir Sumatera Selatan. Untuk itu DPW Sumatera Selatan menanam 100 bibit mangrove di Dusun Sembilang, Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Rabu (22/04/2026).
Pantauan dilapangan terlihat jelas. Banyak anak anak generasi penerus bangsa ikut terlibat dalam penanaman bibit mangrove, serta stake holder desa setempat dalam aksi sosial. Menjaga kelestarian alam dalam hal ini menjaga kelestarian laut serta melawan Abrasi.
Lokasi kegiatan di pusatkan pada wilayah pesisir yang rentan terhadap abrasi sekaligus mengalami tekanan ekosistem laut. Penanaman mangrove dipilih sebagai solusi berbasis alam yang terbukti efektif menahan gelombang, menyerap karbon, dan menjaga keseimbangan lingkungan.Founder Protect Indonesia, Tiara Pramitha Lusmira, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar simbolis, melainkan langkah nyata menjaga keberlanjutan pesisir.
“Penanaman mangrove ini adalah bentuk komitmen kami terhadap lingkungan. Mangrove memiliki peran penting dalam mengurangi abrasi, menjaga ekosistem laut, dan melindungi wilayah pesisir seperti Dusun Sembilang yang berbatasan langsung dengan laut,” jelasnya
Hal yang sama disampaikan, Ketua SHI Sumatera Selatan, M. Husni, menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat sebagai bagian dari gerakan lingkungan yang berkelanjutan.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas pihak, termasuk dukungan pemerintah setempat yang dinilai menjadi faktor kunci kelancaran kegiatan. Di tingkat lokal, kegiatan ini disambut positif. Kepala Dusun V Sei Sembilang, Cristin Monika, menyebut aksi tersebut sebagai langkah penting untuk masa depan wilayahnya.
“Ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan. Mangrove yang ditanam akan melindungi dusun kami dari banjir dan abrasi, serta menjadi warisan bagi generasi berikutnya,” katanya.
Penanaman mangrove ini menjadi pengingat bahwa upaya menjaga bumi tidak bisa ditunda. Di tengah ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, aksi kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa dampak besar, terutama bagi masyarakat yang hidup di garis terdepan perubahan tersebut.
Dengan keterlibatan komunitas, organisasi, dan pemerintah, gerakan seperti ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif sekaligus menciptakan ekosistem pesisir yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang anggota kegiatan penanaman Mangrove l. Hariyadi yang notabenenya adalah Katab Samsat Empat Lawang menuturkan, bahwasanya sangat bangga bisa ikut andil dalam kegiatan sosial seperti ini. Pasalnya melalui program ini. Selain untuk melawan Abrasi serta menjaga alam. Namun yang lebih penting adalah ada nilai edukasi bagian masyarakat setempat khususnya,Masyarakat di pesisir pantai pada Umumnya. Namun yang tak kalah penting lagi kedepannya ikut keberadaan hutan mangrove yang ditanam akan menjadi nilai tambah bagi para nelayan dan masyarakat sekitar. Sebab keberadaan mangrove akan menjadi tempat biota laut berkembang biak. Sehingga secara otomatis akan menambah nilai ekonomis bagi masyarakat nelayan.
“Kami bahagia dan bangga ikut terlibat dalam aksi sosial menanam bibit mangrove, karena sudah dilibatkan dalam menjaga kelestarian alam dalam hal ini laut. Dan yang paling penting adalah ini bisa memberikan. Edukasi bagi anak anak generasi penerus bangsa untuk bersama bersama bertanggungjawab menjaga kelangsungan alam,” tutupnya (Bento/Red)